Perempuan Muslim Inggris Menjadi Lesbian

Perempuan Muslim Inggris Menjadi Lesbian

Lesbian

Perempuan Muslim Inggris Menjadi Lesbian

Perempuan Muslim Inggris Menjadi Lesbian – Selama bertahun-tahun Miriam menyembunyikan orientasi seksualnya kepada keluarganya, kalangan Muslim taat. Saat akhirnya ia mengaku, ayahnya tak mau lagi mengakuinya sebagai anak. Namun pengakuan itu mengakhiri kehidupan gandanya, yang harus selalu berpura-pura menjadi seorang heteroseksual.

“Saya selalu tahu saya tertarik dengan sesama jenis – sejak saya berusia empat atau lima tahun, saat saya mencium teman baik saya di ruang mantel.” “Namun, saya baru mulai mengeksplorasi ketertarikan itu di perguruan tinggi. Kami saat itu memiliki akses internet di rumah dengan akses putar nomor (dial-up) di kamar saudara laki-laki saya.”

“Saya sering menggunakan Yahoo chat dan berpura-pura sebagai seorang laki-laki hanya untuk berbicara dengan kaum perempuan. Saat saya menginjak usia 18 atau 19 tahun, saya berpikir mungkin saya harus mencari perempuan lesbian.”

Miriam dibesarkan dalam keluarga Muslim tradisional di Bristol. Kakeknya adalah seseorang yang sangat dominan di keluarga. Secara rutin, kakeknya menyampaikan ajaran Islam ke keluarganya dan mengajak mereka untuk salat lima kali sehari.

Meskipun mengetahui bahwa ia adalah seorang lesby sejak kecil, Miriam mengerti bahwa membuka orientasi seksualnya pada keluarganya akan berujung konflik. Dia mencoba sekeras mungkin untuk menyembunyikannya. Kemudian menemukan cara untuk mengeksplorasi orientasi seksualnya di layanan obrolan daring.

Di perguruan tinggi, Miriam memberanikan dirinya untuk berkencan dengan perempuan. Dia harus menempuh jarak ratusan kilometer supaya tidak ada orang yang melihatnya berkencan.

“Saya pergi ke Manchester atau Hartlepool, tempat-tempat yang ditempuh dalam dua jam dari tempat saya tinggal.” “Saya sangat takut untuk menjalin hubungan dengan orang yang tinggal di kota yang sama dengan saya. Ketakutan itu memenuhi kepala saya – bagaimana jika ada yang memergoki saya di stasiun?”

Meskipun takut diketahui orang, hubungan ini memberi Miriam kebebasan.

“Saya memastikan pacar saya tidak meninggalkan ‘tanda cinta’ di leher saya. Namun ketika saya sedang bersamanya, itu sangat menyenangkan. Saya berpikir, ‘Ya Tuhan, saya melakukan ini. Saya memiliki pengalaman seksual dengan perempuan lain, ini luar biasa’.”

“Saat itu, orang-orang tidak mencurigai bahwa saya sedang menjalin hubungan jarak jauh. Saya bertemu dengan satu perempuan sekali setiap bulan. Saya menemuinya dengan kereta, bertemu selama berjam-jam, pergi ke pub dan makan. Kami sangat terbuka, saya merasa sangat bebas.”

Beberapa hubungan berlangsung lebih panjang: selama satu tahun, dia pergi ke Burnley, dekat Manchester, untuk menemui pacarnya, seorang pria Muslim yang sudah menikah dan memiliki satu anak.

“Saya biasanya tinggal di penginapan. Suaminya bekerja di malam hari dan pada pukul 18.30 dia akan pergi kerja. Saat itu, saya akan masuk melalui pintu belakang. Saya biasa menyalakan alarm pada pukul 05.30 pagi dan keluar dari pintu belakang lagi. Hal itu sangat ganjil. Keluarganya mengenal saya sebagai seorang ‘teman yang bertamu ‘.

“Mereka tidak pernah mengira saya adalah partner seksual perempuan itu dan suaminya pun tidak pernah memergoki saya. Semua itu sangat naif. Saya tidak memandangnya sebagai suatu masalah karena saya sudah biasa hidup dalam kerahasiaan. Namun, saat saya memikirkan tentang hal itu sekarang, itu sangat memuakkan karena saya berpikir, ‘bagaimana saya dapat melakukan itu?'”

“Saya sangat percaya, meski saya sering berpacaran dengan perempuan di masa lalu, dulu saya belum jujur dengan diri saya sendiri. Pengalaman-pengalaman saya membuat saya tidak hanya lebih kuat, tapi membuat saya lebih menerima diri saya apa adanya.”

*Miriam adalah nama samaran. Ia menceritakan kisahnya kepada Jonathan Holmes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *