Fakta Seputar LGBT, Penyebab Angka Kematian yang Tinggi

Fakta Seputar LGBT, Penyebab Angka Kematian yang Tinggi

Bisexual Gay dan Lesbian

Fakta Seputar LGBT

Fakta Seputar LGBTTransgender mungkin masih dianggap tabu oleh kebanyakan orang. Tak hanya di Indonesia, tapi hal itu juga masih terjadi di seluruh dunia.

Baca juga : Bukan Hanya Pencitraan, Berikut Bukti Aksi Sosial dari Awkarin

Menurut kebanyakan orang, transgender merupakan kesalahan dari berbagai aspek, entah secara agama, politis maupun norma sosial. Namun ternyata, banyak stigma mengenai transgender yang sebenarnya salah.

Dari sisi mereka sendiri, yang merupakan seorang transgender, sebenarnya mengalami berbagai kebimbangan dalam hidupnya sebelum akhirnya memutuskan untuk menunjukkan jati diri mereka.

Tingginya Kasus Bunuh Diri

Tak disangka, ternyata banyak kasus transgender yang melakukan uji coba bunuh diri. Berbagai hal menjadi alasan mereka, diantaranya harga diri ataupun intimidasi.

Sebanyak 43% transgender mengatakan bahwa mereka pernah mencoba melakukan usaha bunuh diri. Terkait dengan masalah intimidasi atau kekerasan, hampir 30% remaja melaporkan bahwa mereka merasa tidak aman ketika bepergian ke sekolah.

Banyak juga transgender yang mengatakan bahwa mereka setidaknya dua kali melakukan percobaan bunuh diri.

Sebagai perbandingan, hanya 5% laki-laki normal yang melakukan percobaan bunuh diri dan jumlah yang sama bagi perempuan normal.

Kasus Pembunuhan Transgender

Meskipun masih relatif sedikit jumlahnya, angka pembunuhan transgender dilaporkan meningkat di AS dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2018, ada 26 pembunuhan transgender, dengan sebagian besar korban adalah perempuan transgender kulit hitam. Pada 2019, setidaknya ada 21 kasus.

Adapun mengapa orang kulit hitam transgender tampaknya lebih rentan mengalami kekerasan. Kemungkinan dihubungkan dengan fakta bahwa mereka lebih banyak menghadapi diskriminasi.

Entah karena jenis kelamin mereka, seksualitas mereka atau ras mereka, ada lebih banyak alasan mengapa orang memilih untuk menyerang mereka.

Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan sebanyak 10% orang transgender melaporkan diserang secara fisik dalam setahun terakhir.

Mahalnya Biaya Operasi

Bagi mereka yang menderita disforia gender, ada beberapa pilihan di luar sana.

Mulai dari sekadar berpakaian sebagai jenis kelamin pilihan mereka hingga hanya menggunakan obat pengganti hormon.

Pilihan yang paling ekstrem adalah operasi penggantian kelamin tetapi tidak tersedia bagi banyak orang karena harganya yang mahal.

Pertama, hampir semua asuransi tidak mencakup operasi atau hanya akan menanggung sebagian kecil dari biayanya. Kedua, biayanya bisa sangat besar, dengan beberapa studi menetapkan harga lebih dari US$100.000 atau sekitar Rp 1,4 miliar.

Oleh karena itu, banyak orang transgender sering hanya akan menjalani sebagian operasi, dengan beberapa melakukan tindakan ekstrem, seperti pengikatan dada, untuk memastikannya terlihat semirip mungkin dengan jenis kelamin yang mereka sukai.

Penyesalan Usai Operasi

Seperti banyaknya masalah transgender terkait akan hal kesehatan, tidak ada indormasi yang cukup tentang seberapa sering orang melaporkan penyesalan pasca operasi, meskipun banyak kisah yang terjadi.

Namun, beberapa dokter telah melaporkan bahwa pasien kembali datang dalam beberapa bulan atau tahun setelah operasi mereka dan meminta untuk dikembalikan seperti semula.

Jika beberapa penelitian benar-benar dilakukan, sekitar satu dari 20 orang transgender diyakini menderita penyesalan pasca operasi.

Beberapa orang melaporkan pengaruh hormon sebagai kekuatan pendorong di balik keputusan terburu-buru mereka untuk menjalani operasi sedangkan lainnya mengeluh kurangnya terapi yang tersedia, yang memicu mereka untuk melakukan bunuh diri.

Operasi Transgender Bukan Hal Baru

Meskipun tampaknya operasi kelamin merupakan fenomena yang relatif baru, operasi transgender, atau operasi penggantian kelamin, sudah ada sejak lama.

Operasi pertama yang dilakukan untuk seorang individu transgender adalah mastektomi pada tahun 1926, yang dilakukan oleh klinik terkenal seksolog Jerman Magnus Hirschfeld.

Penektomi atau proses penghilangan penis, pertama dilakukan empat tahun kemudian, dengan vaginoplasti pertama di dunia pada tahun berikutnya. (Sayangnya, pasien meninggal tak lama setelah itu.)

Orang Amerika pertama yang menjalani operasi adalah Christine Jorgenson.

Pada tahun 1952, ia melakukan perjalanan ke Denmark dan dilakukan oleh Christian Hamburger. (Dia bahkan memilih namanya untuk menghormatinya.)

Mungkin karena penampilannya yang cantik dan rambutnya yang pirang, Jorgenson diterima dengan baik oleh publik Amerika, menjadi ikon bagi orang-orang transgender selama beberapa dekade sesudahnya.

Kasus Transgerder Sangat Jarang

Sebuah studi tahun 2016, yang melihat berbagai survei selama sembilan tahun sebelumnya, menyimpulkan dua hal.

Pertama, proporsi individu transgender tumbuh dari waktu ke waktu. Kedua, jumlah itu masih sangat kecil: hanya sekitar 1 dari setiap 250 orang dewasa, atau 0,4%.

Sebagai perbandingan, semua orang lesbian, gay, atau biseksual di A.S. hanya menyumbang sekitar 4%.

Dengan fakta itu, pasti mengejutkan bahwa begitu banyak orang terlalu menghebohkan kehidupan populasi transgender yang sebenarnya sangat kecil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *