Bentuk Penyimpangan Sosial

Bentuk Penyimpangan Sosial

Bisexual

Bentuk Penyimpangan Sosial

Bentuk Penyimpangan Sosial, – Penyimpangan sosial termasuk dalam perilaku menyimpang. Penyimpangan merupakan perilaku sejumlah besar orang yang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi.

Diambil dari buku Roots of Wisdom: Inti Kebijakan (2011) karya Zicheng Hong, ada beberapa ahli yang mengartikan perilaku menyimpang. Robert MZ Lawang mengatakan perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam masyarakat.

Serta menimbulkan usaha dari yang berwenang dalam sistem untuk memperbaiki perilaku menyimpang. Menurut Paul B Horton, perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.

Ciri-ciri penyimpangan sosial

Penyimpangan sosial memiliki ciri-ciri menurut Paul B Horton, sebagai berikut:

Penyimpangan dapat didefinisikan

Perilaku dikatakan menyimpang atau tidak harus bisa dinilai berdasarkan kriteria tertentu dan diketahui penyebabnya.

Penyimpangan bisa diterima atau ditolak

Perilaku menyimpang tidak selamanya negatif. Ada beberapa penyimpangan yang bisa diterima masyarakat. Misalnya perempuan yang bekerja. Sedangkan pembunuhan dan perampokan menjadi penyimpangan sosial yang ditolak.

Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak

Dikatakan relatif jika perbedaannya hanya pada frekuensi dan kadar penyimpangan. Jadi secara umum, penyimpangan yang dilakukan setiap orang cenderung relatif.

Jika ada yang melakukan penyimpangan mutlak, seiring berjalannya waktu akan berkompromi dengan lingkungannya.

Penyimpangan terhadap budaya nyata atau budaya ideal

Budaya ideal adalah segenap peraturan hukum yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat.

Kenyataannya tidak ada seorang pun yang patuh terhadap segenap peraturan resmi karena antara budaya nyata dengan budaya ideal selalu terjadi kesenjangan.

Artinya, peraturan yang telah menjadi pengetahuan umum dalam kenyataan kehidupan sehari-hari cenderung banyak dilanggar.

Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan

Norma penghindaran adalah pola perbuatan yang dilakukan orang untuk memenuhi keinginan mereka, tanpa harus menentang nilai tata kelakuan secara terbuka. Norma-norma penghindaran merupakan bentuk penyimpangan perilaku yang bersifat setengah lembaga.

Penyimpangan berdasarkan intensitasnya dibedakan menjadi dua, sebagai berikut:

Penyimpangan primer

Sebuah jenis penyimpangan yang bersifat sementara dan tidak dilakukan secara berulang-ulang.

Ciri-cirinya, bersifat sementara, gaya hidup pelaku tidak didominasi perilaku menyimpang, dan masyarakat masih bisa menerima atau mentolerir.

Misalnya, siswa yang terlambat masuk sekolah karena halangan transportasi. Alasan ini tidak bisa diprediksi dan bukan niat untuk terlambat. Alasan tersebut bisa diterima.

Penyimpangan sekunder

Sebuah penyimpangan yang dilakukan secara terus menerus atau berulang kali dan secara khas memperlihatkan perilaku menyimpang.

Ciri-cirinya, gaya hidupnya didominasi perilaku menyimpang dan masyarakat tidak bisa menerima atau mentolerir perilaku tersebut.

Misalnya, kebiasaan minum-minuman keras dan membuat gaduh masyarakat. Dengan alasan apa pun tidak akan diterima oleh masyarakat.

Berdasarkan jumlah pelakunya

Penyimpangan dikategorikan menjadi dua, yaitu:

Penyimpangan individual

Terjadi jika seseorang secara perorangan melakukan penyimpangan dari suatu begian kebudayaan yang telah mapan. Secara terang-terangan individu tersebut menolak norma yang telah diterapkan.

Penyimpangan kelompok

Merupakan aktivitas yang bertentangan dengan norma dan dilakukan secara kolektif. Penyimpangan kelompok dilakukan atas dasar kerja sama antarindividu yang tergabung dalam kelompok.

Berdasarkan sifatnya

Penyimpangan berdasarkan sifatnya dibedakan menjadi dua, yaitu:

Penyimpangan positif

Penyimpangan sosial yang memiliki dampak positif terhadap sistem sosial karena dianggap ideal dalam masyarakat.

Penyimpangan negatif

Penyimpangan sosial yang berwujud dari tindakan ke arah nilai-nilai sosial yang dianggap rendah dan tercela karena tidak sesuai dengan norma yang berlaku.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *