Apakah LGBT Merupakan Sumber Malapetaka di Dunia?

Apakah LGBT Merupakan Sumber Malapetaka di Dunia?

Gay dan Lesbian

Apakah LGBT Merupakan Sumber Malapetaka di Dunia?

Penyebab LGBT Bukanlah Salah Asuhan, Apa Kata Ahli?

 

Apakah LGBT Merupakan Sumber Malapetaka di Dunia? Lesbian, gay, biseksual dan transgender yang disingkat dengan LGBT selalu menjadi isu hangat yang diperbincangkan oleh banyak kalangan. Secara teologis, memang menyangkut agama apa pun di dunia ini termasuk Islam yang menolak prilaku LGBT karena dianggap menentang dengan agama yang memunculkan hubungan seks dengan sesama jenis menyalahi fitrah manusia.

Dan prilaku tersebut akan memutus mata rantai manusia yang akan melanjutkan eksistensi dan keberlangsungan hidup manusia di atas dunia. Selain itu LGBT mempertimbangkan “sumber malapetaka” yang akan mendatangkan keburukan dan kerusakan bagi kehidupan manusia.

LGBT haram hukumnya disetujui. Berdasarkan hadis Nabi Muhammad yang menyatakan: “Sesungguhnya yang paling aku takuti (menimpa) umatku adalah agama kaum Luth”. (HR Ibnu Majah). Dalam hadis yang dinyatakan: “Allah melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan Luth,” dia mengulanginya sebanyak tiga kali. (HR Nasa’i)

LGBT, para ulama berbeda pendapat yang mengatakan harus membantah dan ada yang membantah ta’zir. Seperti mengakui Ibn Qayyim, ”menggantikan kewajiban (yaitu dalam melakukan lesbi) hukuman (membunuh) karena tidak ada ilajj (solusi / obat, yaitu jima ‘) Meskipun disematkan bagi pengguna (dengan kata homo dan lesbi) Jawab Al-Kaf, h. 177). Ibn Hajar menggolongkan tindakan lesbian ini sebagai bentuk penyimpangan fitrah manusia, dan pelakunya termasuk dalam kategori hukuman dosa-dosa besar yang mewajibkan pertolongan segera untuk bertaubat kepada Allah (Al-Zawajir A’n Iqtiraf Al-Kaba’ir, halaman 119).

Akan tetapi di sisi lain Daftar Kiss918  tidak bisa dinafikan sebagai komunitas LGBT ini memang ada di tengah-tengah masyarakat. Berdasar informasi dari percakapan hak-hak lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) Dede Oetomo menyebut jumlah gay di Indonesia yang ada ribuan orang. Lebih dari itu, kira-kira tiga persen dari penduduk Indonesia adalah LGBT.

Lantas bagaimana seharusnya kaum agamawan menyikapi penomena LGBT? Satu sisi prilaku tersebut bertentangan dengan agama, sementara pada sisi lain komunitas tersebut ada dan banyak yang dipertanyakan di masyarakat. Apakah hukuman untuk LGBT itu bisa diberlakukan dalam konteks hukum di Indonesia atau anggota mungkinkah memberlakukan hukuman ta’zir terhadap ribuan komunitas LGBT tersebut?

Sampai di sinilah diperlukan kearifan dan kebijakan dalam menyikapi penomena komunitas LGBT di Indonesia. Persetujuan hukum (fatwa) kelihatannya tidak menyelesaikan masalah utama sekali dalam konteks hukum di Indonesia di mana fatwa hanya mengikat secara internal. Para agamawan harus menggunakan yang lain yang lebih penting dan bermanfaat yang terkait dengan ri’ayah dan khidmat lilummat (pembinaan dan pelayanan bagi umat) dan melakukan Ishlah wa tajdid (perbaikan dan dukungan)

Tidak ada salahnya para agamawan ikut aktif dalam melakukan proses terapi dan “memulihkan” bagi komunitas LGBT tersebut. Karena menurut banyak psikolog, LGBT yang bisa disembuhkan. Karena “penderita” LGBT menurut pakar 80 persen lebih besar karena faktor lingkungan seperti kesalahan orang tua dan depresi berat. Hal ini sangat tergantung pada dukungan LGBT itu sendiri dan dukungan masyarakat pada umumnya.

“Ini adalah apa yang Anda inginkan.” “Kami adalah orang-orang yang ingin mendapatkan bantuan yang lebih baik.”

Tidak berlebihan bila diberikan, komunitas LGBT bisa dibuat “lahan dakwah” baru bagi kaum agamawan untuk mengembalikan mereka kepada jati diri mereka yang benar. Upaya dakwah ini dapat meminimalisir angka penyimpangan pada masyarakat LGBT yang terkait dengan penelitian tentang laki-laki lebih lanjut tentang masalah HIV / AIDS, serta mempromosikan mereka yang melakukan hubungan seksual dengan laki-laki dengan sesama jenisnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *