4 Hal tentang Dugaan Napi Jadi Gay dan Lesbi di Jabar

Bisexual Gay Gay dan Lesbian Guy Lesbian LGBT society

4 Hal tentang Dugaan Napi Jadi Gay dan Lesbi di Jabar

4 Hal tentang Dugaan Napi Jadi Gay dan Lesbi di Jabar – Kepala Kanwil Kemenkum HAM Jabar, Liberti Sitinjak mengakui, daya tampung setiap sel sudah tidak ideal. Dampaknya ke orientasi seksual narapidana atau napi.

Hal itu karenakan, jumlah warga binaan atau napi yang melebihi kapasitas rutan serta lembaga pemasyarakatan. Penyimpangan tersebut sebabkan oleh kebutuhan biologisnya yang tak tersalurkan.

Data Kemenkumham Kanwil Jabar ke wilayah Jawa Barat menyebutkan, terdapat 40 unit pelayanan teknis (UPT) pemasyarakatan yang terdiri dari 32 lapas dan rutan, satu LPKA, empat bapas dan tiga rupbasan.

Sementara, ada 23.861 orang yang saat ini mendekam pada rutan dan lapas. Mereka terdiri dari 4.587 tahanan dan berstatus napi sebanyak 19.274 orang.

Dari jumlah itu, yang terjerat kasus pidana umum sebanyak 11.775 orang, sedangkan untuk jenis pidana khusus 12.086 orang.

Bukan hanya dikarenakan over kapasitas, perilaku seks penyuka sesama jenis juga yang sebabkan oleh masa tahanan yang lama dari sebagian napi.

Berikut 4 hal tentang adanya dugaan penyimpangan seksual napi di LP wilayah Jabar

1. Kebutuhan Biologis Tak Tersalurkan

Kepala Kanwil Kemenkum HAM Jabar, Liberti Sitinjak mengakui, daya tampung setiap sel sudah tidak ideal. Dampaknya ke orientasi seksual napi.

Melansikan dari https://hansens-hikes.com/ “Dampaknya munculnya homoseksualitas dan lesbi,” ujar Liberti usai acara pembekalan terhadap petugas di SOR Arcamanik, Kota Bandung, Senin, 8 Juli 2019.

“Setidaknya gejala itu ada. Bagaimana seseorang sudah berkeluarga, masuk ke lapas, otomatis kan kebutuhan biologisnya tidak tersalurkan. Jadi gejala itu ada,” lanjut ia.

Meski demikian, Liberti mengaku tidak bisa menyebutkan lokasi lapas dan jumlah napi yang orientasi seksualnya berubah.

“Tidak etis kalau saya buka,” lanjutnya.

2. Takut Menular

Liberti juga mengatakan, hal yang mengkhawatirkan adalah bisa menular tak hanya antarnapi. Kapasitas berlebih ini pun bisa mempengaruhi pada kualitas kesehatan penghuni dan petugas lapas.

“Pengamatan saya, homoseksual ini jadi menular dan ini kerja besar kami bagaimana mengatasi dampak-dampak dari over kapasitas ini,” kata Liberti.

“Dengan kondisi seperti ini, pembinaan juga tidak efektif,” ucapnya.

3. Over Kapasitas

Kepala Bagian Humas Rektorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen Pas), Ade Kusmanto, membenarkan, perilaku seks menyimpang pada kalangan napi mengakibatkan oleh berlebihannya napi yang menghuni lapas-lapas pada wilayah Jawa Barat.

Ia mengungkapkan, kelebihan kapasitas lapas bukan hanya menyebabkan penyimpangan orientasi seksual. Hal ini juga menyebabkan berbagai tindak pidana.

“Overcrowded lapas dan rutan menimbulkan pelbagai permasalahan baru seperti perkelahian massal mengakibatkan kerusuhan, peredaran narkoba, penularan penyakit menular, dan bahkan penyimpangan seksual,” tutur Ade

Saat ini, kata Ade, lapas di Jabar hanya mampu menampung napi sebanyak 15 ribu saja. Namun faktanya, jumlah napi mencapai 23 ribu jiwa.

“Over kapasitas kurang lebih 52 persen,” ujarnya.

Bukan hanya karenakan over kapasitas, perilaku seks penyuka sesama jenis juga sebabkan oleh masa tahanan yang lama dari sebagian napi.

“Munculnya permasalahan disorientasi seksual narapidana karena akibat hukuman yang lama, sementara kebutuhan biologisnya tidak terpenuhi didalam lapas atau rutan,” jelas Ade.

4. Perlu Bilik Asmara

Ade juga menilai perlu adanya pengkajian mengenai bilik asmara dalam lembaga pemasyarakatan (lapas). Ia menilai hal itu perlu dilakukan kajian secara mendalam supaya tidak menjadi solusi yang responsif semata.

“Perlu dalam kaji dulu, baik dari pandangan hukum, sosial, budaya , keamanan dan ketertiban,” kata Ade.

Menurut dia, saat ini tidak ada aturan hukum yang mengatur mengenai pengadaan bilik asmara untuk narapidana ke lapas.

“Tidak ada, karena belum ada regulasi yang mengatur hal tersebut,” kata Ade.

Ade juga menerangkan bahwa prilaku seks menyimpang kalangan napi tersebut akibatkan oleh berlebihannya napi yang menghuni lapas-lapas pada wilayah Jawa Barat.

Bukan hanya prilaku Lesbian Gay Transgender dan Biseksual (LGBT) saja, kelebihan kapasitas napi, kata Ade juga menyebabkan berbagai tindak pidana.

“Overcrowded lapas dan rutan menimbulkan berbagai permasalahan baru seperti perkelahian massal mengakibatkan kerusuhan, peredaran narkoba, penularan penyakit menular, dan bahkan penyimpangan seksual,” terangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *